About Me
Assalamualaikum. Perkenalkan namaku Chotim, kuliah di UNSOED purwokerto, tertarik pada Matematik. Terima kasih temen2 semua udah mampir ke situs saya.

Friends
solichin
solichin lagi
yantiez

Links
plasa mail
yahoo mail
google

Archives
04/01/2004 - 05/01/2004
05/01/2004 - 06/01/2004

Credits
Blogger
Blogskins
Layout


Friday, May 21, 2004

22 mei 2004
Udah jenuh aq, tapi ga jadi2

posted by Otim at 11:36 PM

~~~*~~~


Jumat, 22 mei 2004
Otim itu nama panggilanku,tapi ada juga yang usil manggil kot2, chot, choti,chotim, kotim, ot2,thing, ofah, musa, timi,tim, pokoknya lagi banyak deh. Aq sih ok2 aza di panggil yang gitu2 tapi akan lebih seneng jika orang manggil aq otim, kenapa hayo .........., yang jelas bukan karena apa2 sih, tapi uniq aza gitu..................
So terserah yu2 mo manggil apa

posted by Otim at 11:36 PM

~~~*~~~


22 mei 2004
CHOTIMATUL MUSYAROFAH,Nama aq baguskan, kata orang sih kaya nama orang timur tengah tapi kalau kamu udah tau orang nya pasti kamu ga nyangka karena apa ..............., pokoknya kalau pingin tau ayao kenalan> berani............

posted by Otim at 11:27 PM

~~~*~~~


Saturday, May 15, 2004

tes

posted by Otim at 4:51 AM

~~~*~~~


Wednesday, April 14, 2004

Indahnya Cinta

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda
berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki
tangga.
Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia
berjalan
menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh
si sopir.
Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan
tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta.
Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar
ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan
pada
diri sendiri.
Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib
mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya,
dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku ?" dia bertanya-tanya,
hatinya mengeras karena marah.
Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa,
dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu -- penglihatannya takkan
pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis.
Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras
tenaga dan membuatnya frustasi.
Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya.

Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.
Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana
Susan tenggelam dalam keputusasaan.
Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa
percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi
berbagai
situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling
sulit
yang pernah dihadapinya.

Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi.
Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya ? Dulu Susan biasa
naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian.
Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat
kerja
mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan. Mula-mula,
kesepakatan
itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya
yang buta, yang tidakyakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana
sekalipun.

Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat
mereka terburu-buru, dan terlalu mahal.
Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati.
Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan
telah membuatnya merasa tidak enak.
Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya
nanti ?

Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik
bus lagi.
"Aku buta !" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana
aku pergi ? Aku merasa kau akan meninggalkanku"

Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus
dilakukan.
Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan,
selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan
seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap
hari.
Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang
lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan
bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan
menyisakan satu kursi kosong untuknya.
Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu
menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus,
atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus.

Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik
taksi ke kantornya.
Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang
pertama,
Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa
dikawal.
Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya
sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita
yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan
pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan
itu seorang diri.
Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah
menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya
berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan
cinta Mark.
Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi
ke arah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna.
Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu
berangkat kerja tanpa dikawal.

Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja.
Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata.
"Wah, aku iri padamu".

Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak.
Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang
tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup ?
Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau
iri kepadaku ?"

Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai
seperti itu" Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu.
Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu ?"

"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan
berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau
turun dari bus.

Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia
mengawasimu
terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman,
memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung",
kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik
tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya.
Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah
yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu
dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang
bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.


posted by Otim at 8:01 PM

~~~*~~~


Tuesday, April 13, 2004

Selamat Datang di WebloG Chotim....
Anugerah Terindah di dunia

posted by Otim at 6:05 PM

~~~*~~~